Hakikat dan Sumber Pengetahuan (K2)


A.    Hakikat dan Sumber Pengetahuan 
      Pengertian Hakikat
Secara umum, hakikat diartikan sebagai sesuatu yang inti, yang sebanarnya, yang sejati, yang tak dapat berubah pengertiannya tentang sesuatu. Hakikat berasal dari bahasa Arab haqîqah (jamaknya haqâiq) dengan kata dasar haq, yaitu nyata, pasti, tetap yang diterjemahkan sebagai kebenaran, kenyataan, keaslian.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hakikat adalah dasar, intisari, kenyataan yang sebenarnya.


 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan memiliki makna yang lebih radikal. Namun, pengetahuan bukan hanya penyatuan antara subjek dan objek, akan tetapi pengetahuan merupakan integrasi keduanya yang bersifat mendalam. Artinya, pengetahuan adalah segenap pengetahuan kita tentang suatu objek tertentu termasuk kedalamnya adalah ilmu dan dari pengetahuan itu kita bisa membuat sebuah keputusan.[2]
Orang sering menyebutkan secara bersama-sama antara ilmu dan pengetahuan sebagai satu istilah. Ada yang berpendapat bahwa keduanya memiliki kaitan proses. Namun, ada juga yang memisahkan dan membedakan pengertian antara keduanya. Mohammad Adib menyebutkan beberapa diantaranya yaitu, seorang filsuf John F. Kemeny. Ia menggunakan ilmu dalam arti semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah.[3] Bagi Charles Singer ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan. Sedangkan Harold H. Titus mengatakan bahwa banyak orang telah mempergunakan ilmu untuk menyebut suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya.
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Filsafat, Burhanuddin Salam menuliskan bahwa pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.[4] Drs. Sidi Gazalba mengemukakan bahwa pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pengetahuan adalah peristiwa yang menyebabkan kesadaran manusia memasuki terang ada”.[5] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengetahuan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal”. Sementara ilmu diartikan sebagai “pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan bagian dari ilmu. Jika kita ibaratkan keduanya sebagai sapu lidi, maka pengetahuan adalah lidi-lidinya, sedangkan ilmu merupakan sapu lidi tersebut. Sapu lidi adalah kumpulan dari banyak lidi yang ditata dan disusun sedemikian rupa sehingga ia memiliki nama tertentu, cara penggunaan tertentu, dan juga kegunaan tertentu.
Sumber Pengetahuan
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empiris.
Kaum rasionalisme mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang di dapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistik dan subyektif. Lebih jauh Einstein mengingatkan bahwa tak terdapat metode induktif yang memungkinkan berkembangnya konsep dasar suatu ilmu.[6] Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap oleh pancaindera.
Intuitif merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tanpa melalui proses berpikir berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai disitu. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran. Bagi Maslow intuisi ini merupakan pengalaman pengalaman puncak (peak experience).[7] sedangkan bagi Neitzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.[8]
Hakekat Pengetahuan
Jika sebelumnya telah disebutkan pengertian secara umum tentang hakikat pengetahuan seperti yang telah ada di atas, maka filsafat juga memiliki definisi sendiri mengenai hal tersebut. Namun, sebelum membahas tentang hakikat pengetahuan, maka terlebih dahulu akan disinggung tentang asal-usul pengetahuan. Hal ini dikarenakan antara asal-usul pengetahuan dengan hakikat pengetahuan ada kaitannya. Persoalan tentang asal-usul pengetahuan juga memunculkan berbagai aliran dalam filsafat. Dalam buku Filsafat Ilmu yang disusun oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM menjelaskan berbagai aliran tersebut, yaitu:[9]
Rasionalisme
Aliran ini berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal. Akal memperoleh bahan melalui indera untuk kemudian diolah menjadi pengetahuan. Rasionalisme mandasarkan pada metode deduktif untuk memperoleh pengetahuan. Yaitu cara memperoleh kepastian melalui berbagai langkah metodis yang bertolak dari hal-hal yang sifatnya umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.
Empirisme
Pendapat aliran ini adalah bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indera. Indera memperoleh kesan-kesan dari alam nyata untuk kemudian berbagai kesan tersebut berkumpul menjadi pengalaman dalam diri manusia. Pengetahuan yang berupa pengalaman terdiri dari penyusunan dan pengaturan berbagai kesan yang bermacam-macam. Para penganut aliran ini adalah Posivisme Perancis, Posivisme Logis dari Lingkaran Wina, Analisa Filsafati Inggris, dan berbagai aliran Psikologi Behavioristik.
Realisme
Pernyataannya adalah bahwa obyek-obyek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri. Berbagai obyek tersebut adanya tidak tergantung pada yang mengetahui dan yang mencerap, atau dapat dikatakan bahwa adanya tidak bergantung pada pikiran. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi interaksi tersebut tidak mempengaruhi sifat dasar dunia. Dunia tetap ada sebelum pikiran menyadarinya dan akan tetap ada setelah pikiran berhenti menyadarinya.
Kritisisme
Tokohnya yang sangat terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant. Ia berusaha menjawab persoalan tentang pengetahuan yang bertentangan antara aliran rasionalisme dan empirisme dengan mempertemukan keduanya. Hal itu dikarenakan pada masing-masing dari dua aliran tersebut timpang sebelah.
Dalam filsafat Islam, hakikat pengetahuan memiliki pengertian tersendiri. Pada umumnya para filsuf muslim hampir mirip dengan Fenomenalisme Kant. Mereka tidak mendewakan akal ataupun inderawi, tetapi mengakui potensi dan eksistensi keduanya untuk mengetahui hakekat tentang segala sesuatu termasuk pengetahuan. Para filsuf muslim masa skolastik mulai dari Al-Kindi hingga Ibnu Rusyd atau yang lebih dikenal dengan Averoes memiliki pandangan bahwa pengetahuan pada hakekatnya datang dari Allah. Adapun semua potensi yang ada pada manusia baik akal, indera, hati, maupun jiwa sama-sama penting dan berperan serta secara bersama-sama untuk menemukan hakekat tentang segala sesuatu. Pengetahuan yang diperoleh oleh akal, indera, hati, dan jiwa kebenarannya bersifat subyektif dan sementara, oleh karenanya harus disesuaikan dengan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.
Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan petunjuk yang diberikan oleh Allah untuk membimbing manusia menuju hakekat dan menemukan kebenaran. Karena keduanya berasal dari Allah maka kebenaran dan pengetahuan yang tercakup di dalam keduanya merupakan pengetahuan dan kebenaran yang berlaku sepanjang masa. Untuk itulah pengetahuan yang diperoleh oleh potensi manusia tersebut harus disesuaikan dengan petunjuk wahyu yang berupa al-Qur’an dan as-Sunnah.
Seorang filsuf muslim yang bahkan terkenal paling rasionalis sekalipun seperti Ibnu Rusyd menyatakan bahwa jika terdapat pertentangan antara akal dan wahyu, maka akal harus tunduk kepada petunjuk wahyu. Hal itu dikarenakan oleh kemampuan akal, termasuk juga indera, hati, dan jiwa manusia yang sangat terbatas untuk mengetahui hakekat tentang segala sesuatu. Meskipun ia juga mengakui bahwa untuk memahami wahyu selain keimanan diperlukan juga akal.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara potensial manusia mampu menemukan kebenaran, meskipun hakekat yang diperolehnya sangat terbatas pada kemampuan potensinya tersebut. Selain itu pada kenyataannya tingkat kemampuan potensi setiap individu manusia berbeda-beda, maka pengetahuan dan kebenaran yang diperolehnya pun akan berbeda-beda. Oleh karena itulah diperlukan petunjuk dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar, yaitu Allah.
Secara umum, Harun Nasution menuliskan ada dua teori mengenai hakikat pengetahuan. Pertama; realisme, paham ini mempunyai pandangan yang realistis terhadap dunia. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran, atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata (dari fakta, atau dari hakikat). Realisme berpendapat bahwa peengetahuan adalah benar dan tepat, sesuai dengan kenyataan. Kedua; idealisme, teori ini berpendapat bahwa mempunyai gambaran yang benar-benar tepat dan sesui dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses mental, atau proses psikologis, dan ini bisa bersifat subjektif. Oleh karena itu pengetahuan dari seorang idealis hanya merupakan gambaran subjektif dan bukan objektif tentang kenyataan.[10]
Kemudian bagaimana dengan pengetahuan menurut kacamata agama (Islam khususnya)? ada prinsip dasar yang menjadi pondasi pengetahuan dalam islam, seperti makna yang termuat dalam kalimat:  
v     لا إله إلا الله - لا إله = النفي
v     إلا الله = الإثبات
Dalam syahadat, terdapat tindakan penafian/penolakan dan sekaligus penetapan/ penegasan. Hal itu pula lah yang harus terjadi dalam proses pengilmuan. Ada bagian pengetahuan yang harus ditolak, begitu pula ada yang harus ditegaskan tanpa boleh diragukan. Kemudian muncul beberapa makna pengetahuan dari beberapa ulama’, diantaranya:
a.       Mengetahui sesuatu sebagaimana ia padanya. (dari kalangan ahli ushul);
b.      Sampainya makna kepada jiwa atau tercapainya jiwa kepada makna. (Naquib al-Attas);
c.       Para filosof muslim mendefinisikan pengetahuan (ma’rifah) sebagai proyeksi yang dilakukan oleh jiwa terhadap bentuk alam sehingga terwujud gambaran seperti aslinya.[11]
Paparan diatas sudah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang perbedaan antara “pengetahuan” dalam kajian filsafat dan “pengetahuan” dalam kajian agama, hal ini bisa dilihat dari perbedaan objek yang dikaji dari keduanya. Filsafat mengkaji objek realitas empiris non metafisis, sedangkan agama bukan hanya realitas empiris tapi juga ‘Ālam al-Mulk.



[1] Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hal. 283

[2] Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, (Jakarta : Bina Aksara, 1982), hal. 14
[3] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 49

[4] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 5

[5] Kenneth T. Gallagher, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, (Dalam P. Hardono Hadi), (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hal. 25
[6] Albert Einstein, Physic and Realty: Journal of Franklin Institute,  (1936), hal. 348-389
[7] Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt, Invitation to Philosophy, (Belmont, Cal: Wadsworth, 1968), hal. 72

[8] George F. Kneller, Introduction to The Philosophy of Education, (New York: John Wiley, 1969), hal. 10

[9] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 1996), hal. 24
[10] Harun Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2003), hal. 7-8
[11] Imam Al-Ghazali, Tahafut Al Falasifah, (Bandung: Penerbit Marja, 2012) , hal. 5

Post a Comment

0 Comments