2.1 Hakikat Pengetahuan Mistik
Pengetahuan Mistik atau sering
disebut dengan pengetahuan metafisika. Metafisika berasal dari akar kata ‘meta’
dan ‘fisika’. Meta berarti ‘sesudah’,’selain’,atau ‘di
balik’. Fisika yang berarti ‘nyata’, atau ‘alam fisik’.
Metafisika berarti ‘sesudah,’di balik yang nyata’. Dengan kata lain, metafisika
adalah cabang filsafat yang membicarakan ‘hal-hal yang berada di belakang
gejala-gejala yang nyata’.
Metafisika merupakan cabang filsafat
yang membicarakan tentang hal-hal yang sangat mendasar yang berada
di luar pengalaman manusia. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh
Metafisika (Mistik) adalah ilmu yang memikirkan hakikat di balik alam nyata.
Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa
dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindra.
Pengertian secara umum, Mistik
adalah pengetahuan yang tidak rasional. Pengertian mistik bila dikaitkan dengan
agama ialah pengetahuan ( ajaran atau keyakinan ) tentang Tuhan yang diperoleh
melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera
dan rasio (Hornby, 1957 : 828 ).
Metafisika mengkaji segala sesuatu
secara komprehensif. Menurut Achmadi (2005;14), metafisika merupakan cabang
filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat “keluarbiasaan” ( beyond nature
), yang berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut
Ahmadi , metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang berlaku
pada umumnya (keluarbiasaan), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang
berada di luar kebiasaan atau diluar pengalaman manusia.
Aristoteles menyinggung masalah
metafisika dalam karyanya tentang ‘filsafat pertama’, yang berisi
hal-hal yang bersifat ghaib. Menurutnya, ilmu metafisika termasuk cabang
filsafat teoretis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga ilmu
metafisika menjadi inti filsafat.
Pengetahuan metafisika (mistik)
adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya hubungan sebab
akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki
bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Tafsiran paling pertama yang
diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud-wujud
bersifat ghaib (supranatural) dan wujud ini lebih kuasa dibandingkan dengan
alam nyata.
·
Animisme, mengembangkan
metafisika bahwa alam dan manusia dikuasai oleh wujud-wujud yang bersifat ghaib
dan magis. misalnya (roh-roh yang bersifat ghaib terdapat pada
benda, seperti batu, pohon) merupakan contoh kepercayaan yang berdasarkan
pemikiran supernaturalisme.
·
Naturalisme yaitu paham
yang menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural
karena naturalism hanya menerima pandangan yang menyatakan bahwa ada itu
semata-mata realitas alam.
·
Materialisme yang merupakan
turunan naturalisme merupakan paham yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam
tidak disebabkan oleh pengaruh yang kekuatan ghaib, melainkan oleh kekuatan
yang terdapat dalam alam itu sendiri.
2.2 Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat dari segi sifatnya mistik
dibagi menjadi dua, yaitu:
Ø Mistik Biasa, jika
dalam islam, mistik biasa adalah tasawuf, karena tanpa mengandung kekuatan
tertentu.
Ø Mistik Magis, adalah sesuatu
yang mengandung kekuatan tertentu. Magis ini dibagi dua, yakni :
v Magis
Putih, selalu dekat hubungannya dengan tuhan, sehingga dukungan tuhan
yang menjadi penentu. Mistik magis putih bila dicontohkan dalam Islam seperti
mukjizat, karamah, ilmu hikmah.
v Magis
Hitam, erat hubungannya dengan kekuatan setan dan roh jahat. Menurut
Ibnu Khaldun penganut magis hitam memiliki kekuatan di atas rata-rata, kekuatan
mereka yang menjadikan mereka mampu melihat hal-hal ghaib dengan dukungan setan
dan roh jahat. Contohnya seperti santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir.
Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis
ini dapat digolongkan menjadi tiga, diantaranya :
Pertama, mereka
yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Itu
disebabkan jiwa mereka telah menyatu dengan jiwa setan atau roh jahat. Para filosof
menyebut mereka ini sebagai ahli sihir dan kekuatan mereka luar biasa.
Kedua, mereka
yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau
elemen-elemen yang ada di dalamnya, baik benda angkasa atau benda yang ada di
bumi. Inilah yang disebut jimat-jimat yang biasa disimbolkan dalam bentuk
benda-benda material atau rajah.
Ketiga,mereka yang
melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan
berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok
pesulap (sya’badzah).
2.3 Aliran-aliran
Dalam Pengetahuan Mistik
Ontology atau bagian metafisika yang
umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji
persoalan-persoalan, seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan,
pengertian tentang kebebasan, dan lainnya. Di dalam
pemahaman atau pemikiran ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok
pemikiran: monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisisme.
a. Aliran
Monoisme, paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja
sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa ruhani. Tidak
mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Istilah monoisme
oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham monoisme kemudian
terbagi ke dalam dua aliran:
· Aliran
materialisme
Menganggap bahwa sumber yang asal
itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme.
Menurutnya, bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu.
· Aliran
idealisme
Menurut idealisme, gambaran yang
benar yang tepat sesuai dengan kenyataan sebagaimana diteorikan oleh realisme
merupakan sesuatu yang mustahil, sesuatu yang tidak mungkin. Karena itu,
idealisme mentakrif hakikat ilmu sebagai hasil dari proses mental yang niscaya
bersifat subyektif. Pengetahuan bagi penganut idealisme bukan hanya merupakan
gambaran subyektif, bukan gambaran obyektif tentang kenyataan. Dengan demikian,
pengetahuan menurut teori idealistik ini tidak memberikan gambaran yang tepat
tentang kenyataan di luar alam pikiran manusia.
Dinamakan juga spiritualisme.
Idealisme berarti serba cita sedang spiritualisme berarti serba ruh, idealism
diambil dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini
beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam ini semua berasal dari
ruh, yaitu sesuatu yang tidak terbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat
itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.
Menurut Rapar (2005:45), aliran
materialisme menolak hal-hal yang tidak terlihat. Bagi materialisme, ada yang
sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-mata bersifat material atau sama
sekali bergantung pada material. Dengan demikian, bagi materialisme, relaitas
yang sesungguhnya adalah alam kebendaan, sesuatu yang riil atau nyata.
Beberapa filosof atau tokoh yang
tergolong pada aliran materialisme adalah Thales, Anaximenes, dan Anaximandris.
Tokoh atau para filosof yang hidup ratusan tahun sebelum masehi. Thales
mengajarkan bahwa ‘asas permulaan ( arche ) dari segala
sesuatu itu adalah satu, yaitu air. Air adalah pangkal pokok ( asas )
dari dasar (prinsip ) segala-galanya. Semua benda terjadi dari air
dan semuanya akan kembali kepada air pula. Berdasarkan rasio dan pengalaman
yang dilihat nya sehari-hari , Thales mrnyimpulkan tentang asal terbuktinya
alam ini. Sebagai orang pesisir, Thales dapat melihat setiap hari brtapa air
laut menjadi sumber hidup. Begitu juga dengan bangsa Mesir, betapa nasib rakyat
Mesir sangat bergantung pada air sungai Nil. Air sungai nil itulah yang
menyuburkan tanah sepanjang yang dilaluinnya dan dimanfaatkan oleh manusia.
Jika tidak ada air sungai Nil itu, negeri Mesir kembali menjadi padang pasir. Demikianlah,
air laut, air sungai menyebarkan bibit kehidupan seluruh dunia. Semuanya itu
air ! semuanya bersumber dari asal yang satu, air. Dengan demikian, semuanya
itu satu.
Selain Thales, muncul Anaximandros
(640-540 SM), yang berpandangan tentang asas pemula dari segala sesuatu adalah
hanya satu, yaitu yang tidak terbatas (to aperion). anaximandros tidak
mengakui pandangan Thales yang mengemukakan bahwa asas pertama adalah air.
Sebab air tidak mungkin berada dimana-mana, di tempat kering, tempat basah, tinggi,
rendah, termasuk juga api. Air adalah hal yang terbatas. Oleh karena itu,
anasir utama yang menyusun alam itu adalah yang tidak terbatas.
Filosof lain adalah Anaximenes
(538-480) yang termasuk kepada aliran materialisme. Anaximenes memberikan pandangan
bahwa asas pemula seluruh alam semesta dengan segala isinya adalah hawa atau
udara. Bukanlah udara itu meliputi seluruh jagat raya? Begitu Anaximenes
beralasan.
Aliran idealisme atau aliran
spiritualisme adalah lawan dari aliran materialisme. Menurut aliran idealisme
semuanya serba cita (ideal) atau roh ( spiritual ).
Aliran ini menganggap bahwa hakikat segala sesuatu yang ada berasal dari roh,
yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruang. Menurut anggapan
aliran ini, materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan roh
tersebut. Roh adalah sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga materi hanyalah
bayangan atau penjelmaan saja.
Aliran idealisme tumbuh dan
berkembang sejak masanya Plato. Plato yang terkenal dengan pandangannya
mengenai ide. Ajaran ide merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Ide
bagi Plato tidak sama dengan pengertian ide yang dipahami oleh orang pada saat
ini. Dasar pokok pemahaman ide itu dikemukakannya sebagai teori logika.,
kemudian meluas menjadi pandangan hidup, selanjutnya menjadi dasar umum bagi
ilmu dan politik social dan bahkan mencakup pandangan agama. Pembahasan lengkap
mengenai ketiga aspek ini ( teori logika, dasar umum bagi ilmu dan politik
social, dan pandangan agama) telah diulas pada bab sebelumnya.
b. Aliran
Dualisme, adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang
saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme
materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya
ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan
selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan
menyelaraskan kedua aliran tersebut.
Aliran dualisme memandang bahwa alam
terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan
paham yang serba dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme,
di dalam dunia ini selalu dihadapkan kepada dua pengertian, yaitu ‘yang ada
sebagi potensi’ dan ‘yang ada secara terwujud’. Keduanya adalah
sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk(eidos).
Pengertian materi dalam pandangan
aliran dualisme ini tidak sama dengan pengertian materi yang dipahami sekarang
ini. Menurut Aristoteles, materi ( hule ) adalah dasar
terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan unsure bersama
yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa. Materi dalam
arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap
benda yang dapat diamati disusun dari materi. Oleh karena itu, materi mutlak
diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di lain pihak, dapat dijelaskan
bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan,
tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud atau menjadi
ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena
kekuatan yang membentuknya.
Sedangkan bentuk ( eidos )
adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dunia ini, yang berdiri
sendiri, lepas dari benda yang konkret, yang adalah penerapannya. Bagi
Aristoteles, eidos adalah asas yang berada di dalam benda yang konkret, yang
secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda yang konkret
itu disebut demikian ( misalnya disebut meja, kursi, dan lain-lain). Jadi, segala
pengertian yang ada pada manusia, seperti meja, kursi tersebut bukanlah sesuai
dengan realitas ide yang berada di dunia ide, melainkan sesuai dengan jenis
benda yang tampak pada benda konkret.
Demikianlah materi dan bentuk tidak
dapat dipisahkan. Materi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, sebaliknya bentuk
tidak dapat berada tanpa materi. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari
bentuk dan materi.
c. Aliran
Pluralisme, berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam
bentuk itu semuannyanyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan ala mini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua
entitas.
d. Aliran
Nikhilisme, menyatakan bahwa dunia ini terbuka untuk kebebasan dan
kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternative positif.
Dlam pandangan nikhilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan
berkreativitas.
e. Aliran
Agnotisme, menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui
hakikat sesuatu di balik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat
batu, air, api dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia
sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh
indranya maupun oleh fikirannya. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia
untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.
2.4 Epistemologi Pengetahuan Mistik
2.4.1 Objek Pengetahuan Mistik
Objek
pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak supra rasional, seperti alam gaib
termasuk Tuhan, Malaikat, Surga, Neraka, Jin dan lain-lain. Termasuk objek yang
hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak
dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional),
seperti Kebal, Debus, Pelet, Penggunaan Jin, Santet dan lain-lain.
2.4.2
Cara Memperoleh
Pengetahuan Mistik
Bagaimana memperoleh pengetahuan
mistik? Diatas sudah dikatakan bahwa pengetahuan mistik itu tidak diperoleh
melalui indera dan tindakan juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan
mistik diperoleh melalui rasa, ada yang mengatakan melalui intuisi, Al-Ghozali
mengatakan melalui dhamir atau qalbu. Menurut Immanuel Kant pengetahuan mistik
diperoleh melalui moral. Mistik-magis-putih diperoleh melalui riyadhah,
riyadhah ini ada dalam thariqat, tujuannya untuk mencapai ma’rifat. Mistik-magis-hitam diperoleh melalui pelatihan batin.
2.4.3 Ukuran
Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran
mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal
dari tuhan, maka ukurannya adalah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tetkala
tuhan mengatakan dalam Al-Qur'an bahwa Surga dan Neraka itu ada, maka teks
itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran
kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, suatu dianggap benar karena
kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk
melakukan pekerjaan, ya kepercayaan itulah yang menjadi kepercayaannya. Ada
kalanya kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti
empiris. Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya.
2.5 Aksiologi
Pengetahuan Mistik
2.5.1 Kegunaan Pengetahuan
Mistik
Mustahil
pengetahuan mistik mendapat pengikut yang begitu banyak dan berkembang
sedemikian pesat bila tidak ada gunanya. Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling
tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa)
dapat menentramkan jiwa mereka. Pengetahuan mereka seiring dapat menyelesaikan
persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat.
Jenis
mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan kondisi
tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal misalnya dapat
digunakan dalam pertahanan diri, debus dapat digunakan sebagai pertahanan diri
dan juga untuk pertunjukan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri.
Sementara mistik magis hitam, dikatakan hitam, antara penggunaanya untuk
kejahatan.
Untuk
menilai apakah mistik magis itu hitam atau putih kita melihatnya pada segi
ontologinya, epistemologinya dan aksiologinya. Bila pada hal ontologinya
terdapat hal-hal yang berlawanan dengan kebaikan, maka dari segi ontologi
mistik magis itu kita disebut hitam. Bila cara memperolehnya (epistemologi) ada
yang berlawanan dengan nilai kebaikan maka kita akan mengatakan mistik magis
itu hitam. Bila dalam penggunaan (aksiologi) untuk kejahatan maka kita
menyebutnya hitam.
0 Comments
nama :