A. Pengertian Ilmu
Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad
modern ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan
melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian
aktivitas yang membentuk suatu proses.
Kata ilmu dalam bahasa Arab yaitu "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Secara
sederhana ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Segi-segi ini dibatasi agar memperoleh rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu
memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya. Maksud dari kalimat
diatas yaitu setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian tertentu.
Ilmu lebih mengkhususkan diri pada kejelasan konsep yang dikajinya secara
khusus, lebih sempit dan mendalam. Hal ini untuk memudahkan para pencari ilmu
dalam memfokuskan diri dalam bidang yang dikaji.
Ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan
kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga
menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala
kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.
Ada
persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut suatu ilmu. Persyaratan tersebut
diantaranya:[1]
1.
Objektif
Sesuatu dapat disebut ilmu jika sesuatu tersebut dicari dan
diteliti secara mendalam sehingga menghasilkan suatu keputusan yang
kebenarannya bersifat objektif dan dapat diterima oleh semua orang serta objek
yang ditelitinya nyata. Selain itu kebenarannya dapat diuji secara ilmiah. Jadi
bukan hanya kesimpulan yang diambil secara subjektif oleh peneliti atau subjek
penunjang penelitian saja.
2.
Metodis
Metodis berasal dari bahasa Yunani yaitu metodos yang
berarti cara atau jalan. Dalam menentukan suatu ilmu, harus memiliki cara yang
valid dalam kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan dalam ilmu yang telah
teruji kebenarannya tersebut. Secara umum metodis adalah metode ilmiah untuk
menguji kebenaran suatu ilmu.
3.
Sistematis
Suatu ilmu harus bersifat sistematis. Hal ini dimaksudkan
agar objek dari suatu ilmu tersebut dapat terurai secara teratur dan logis
sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu,
serta mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat yang menyangkut objek ilmu itu
sendiri.
4.
Universal
Jelas dalam menemukan suatu ilmu tertentu harus memiliki
sifat universal. Hal ini untuk menentukan ilmu tersebut dapat dipergunakan
secara luas atau tidak. Seperti ilmu matematika dan ilmu fisika yang memiliki
rumus-rumus yang valid sehingga dibelahan dunia manapun, ilmu tersebut dapat
digunakan dan dapat diterima secara luas.
B. Ilmu
Sebagai Rangkaian Aktivitas
Ilmu
secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan
melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas
tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah
proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan
kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan
perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis
dari pengamatan empiris.[2]
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan
intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional
yang selanjutnya melahirkan ilmu. pemikiran rasional atau rasionalitas manusia
merupakan sumber utama dari ilmu. Yang dimaksud dengan pemikiran rasional
(rational thought) ialah pemikiran yang mematuhi kaidah-kaidah logika, baik
logika tradisional maupun logika modern. Misalnya kaidah pemikiran bahwa
sesuatu hal tidak dapat pada waktu yang bersamaan sekaligus adalah A dan non-A.
Sebagai contoh dalam ilmu tidak boleh dinyatakan bahwa
matahari bersinar dan sekaligus juga tak bersinar atau bahwa sebuah tabung
hampa dan pada saat yang bersamaan nonhampa (atau berisi).
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional
dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu
karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh
setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang
bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.
C. Tujuan Ilmu Menurut Para Ahli
Dalam arti
umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan,
fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.Maka, berdasarkan konsep di
atas, jelaslah bahwa dengan kata teologi pada serangkaian aktivitas tersebut
menggagaskan bahwa ilmu merupakan serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki
tujuan tertentu. Tujuan apakah itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu. [3]
Corak
teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuan dalam
melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu
melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan
demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan, dan tujuan tersebut
sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu. Tujuan ilmu itu dapat
bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuan.
Dalam hal
ini terjadilah kejamakan dan keanekaragaman tujuan karena masing-masing ilmuwan
merumuskan suatu tujuan yang berbeda satu sama lain. Pendapat-pendapat yang
berlainan dari berbagai ilmuwan atau filsuf tetnang ilmu tersebut dapat
dikutipkan di bawah ini:
1.
Pernyataan
Robert Ackermann
“Kadang-kadang
dikatakan bahwa tujuan ilmu ialah mengendalikan alam, dan kadang-kadang ialah
untuk memahami alam.
2.
Pernyataan
Francois Bacon
“Tujuan sah
dan senyatanya dari ilmu-ilmu adalah sumbangan terhadap hidup manusia dengan
ciptaan-ciptaan baru dan kekayaan.
3.
Pernyataan
Jacob Bronowski
“Tujuan
ilmun ialah menemukan apa yang benar mengenai dunia ini.Aktivitas ilmu
diarahkan untuk mencari kebenaran, dan ini dinilai dengan ukuran apakah benar
terhadap fakta-fakta.”
4.
Pernyataan
Mario Bunge
“Pertama-tama,
meningkatkan pengetahuan kita (tujuan intrinsik dan kognitif); kelanjutannya,
meningkatkan kesejahteraan dan kekuasaan kita (tujuan ekstrinsik atau
kemanfaatan).
5.
Pernyataan
Enrico Cantore
“Tujuannya
ialah menemukan struktur yang terpahami dari realitas yang dapat diamati atau
alam.”
D.
Peran
Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian
Ilmu mempunyai peran yang cukup besar dalam
sebuah penelitian yang dilakukan oleh seseorang dalam eksperimennya. Melalui
ilmu seseorang dapat menyalurkan beberapa gagasan yang dapat digabungkan dengan
kehidupan di sekitarnya. Ilmu bersifat luas. Ilmu memiliki cakupan bidang yang
sangat sistematis. Banyak yang dapat kita pelajari melalui ilmu, seperti ilmu
alam, ilmu teknologi, ilmu sosial, ilmu budaya dan lain-lain. Masing-masing
cakupan ilmu memiliki karakter dan metode yang berbeda dalam penerapanya.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas
manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya
aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Ilmu secara
nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan
sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal
saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses.
Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teologis. Aktivitas
rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar
yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu
menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.[4]
Berpangkal pada hasrat kognitif dan
kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan
rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran
rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu.
Dikatakannya bahwa „‟benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam
usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan
menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas
rasional‟‟. Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah
sifat kognitif, bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Dijelaskannya
lebih lanjut demikian: “Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang
telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan
fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang
tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan
dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”. Jadi pada dasarnya ilmu adalah
proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan
pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti
pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia
dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang
bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada
tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai
tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan
oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang
bertujuan.
Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan. Rangkaian aktivitas
pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai
kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan
peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang
digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian
dan mengembangkan ilmu.[5]
Hal ini ditegaskan dalam The
International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan
sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah
diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan.
Ilmu sebagai aktivitas penelitian merupakan bagian dari kesatuan proses ilmiah
yang dialami manusia. rangkaian aktivitas tersebut bersifat rasional, kognitif,
dan teologi.
Aktivitas rasional berarti aktivitas yang
mengaktifkan daya pikir / penalaran logis dari kemampuan berpikir manusia.
Sedangkan aktivitas kognitif ini berpusat pada konsep-konsep pengetahuan yang
belum pernah dialami oleh manusia. Proses kognitif adalah suatu rangkaian
aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang
dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal
dan ilmu sebagai aktivitas teologis berarti ilmu ada sebagai perwujudan dari
tujuan-tujuan tertentu. Yang mana para tokoh mencari ilmu untuk meraih
tujuan-tujuan mereka.
E. Tahap-tahap Penelitian
Penelitian yang menggunakan metode
penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dilaksanakan dengan
tahapan-tahapan berikut :
1.
Tahap orientasi
Dalam tahap ini, peneliti akan mengumpulkan
data secara umum. Orientasi bertujuan untuk mengetahui pemetaan masalah yang
akan diteliti sehingga jelas dan terarah. Hal ini dilakukan dengan wawancara
dan observasi secara umum dan terbuka untuk memperoleh informasi yang luas
tentang objek penelitian.
2.
Tahap eksplorasi
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data
yang lebih spesifik. Observasi dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan
fokus penelitian. Wawancara dilakukan lebih terstruktur dengan mendalam
sehingga informasi mendalam dan bermakna bisa diperoleh. Oleh karena itu,
diperlukan informasi yang berkepentingan dan mempunyai pengetahuan yang cukup
banyak tentang masalah penelitian itu sendiri.[6]
3.
Tahap membercheck.
Dalam kegiatan wawancara dan pengamatan,
data yang terkumpul dicatat dan dibuat dalam bentuk laporan. Hasilnya
dikemukakan untuk dicek kebenarannya. Maksudnya setelah seluruh data yang
diinginkan berhasil dikumpulkan, kemudian dilakukan pengecekan dengan benar
untuk mencapai keabsahan serta relevansi data dengan permasalahan yang diajukan
sebelumnya. Agar hasil penelitiannya sahih (benar), membercheck dilakukan
setelah wawancara.
[2] Yuyun
Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2007), hal. 143
[4] Ahmad Tafsir,
Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 112
[5] Mohammad
Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 132
0 Comments
nama :