ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN (K6)



A.    Pengertian Ilmu
Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses.
Kata ilmu dalam bahasa Arab yaitu "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Secara sederhana ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar memperoleh rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya. Maksud dari kalimat diatas yaitu setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian tertentu. Ilmu lebih mengkhususkan diri pada kejelasan konsep yang dikajinya secara khusus, lebih sempit dan mendalam. Hal ini untuk memudahkan para pencari ilmu dalam memfokuskan diri dalam bidang yang dikaji.

Ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.
            Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut suatu ilmu. Persyaratan tersebut diantaranya:[1]
1.      Objektif
Sesuatu dapat disebut ilmu jika sesuatu tersebut dicari dan diteliti secara mendalam sehingga menghasilkan suatu keputusan yang kebenarannya bersifat objektif dan dapat diterima oleh semua orang serta objek yang ditelitinya nyata. Selain itu kebenarannya dapat diuji secara ilmiah. Jadi bukan hanya kesimpulan yang diambil secara subjektif oleh peneliti atau subjek penunjang penelitian saja.
2.      Metodis
Metodis berasal dari bahasa Yunani yaitu metodos yang berarti cara atau jalan. Dalam menentukan suatu ilmu, harus memiliki cara yang valid dalam kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan dalam ilmu yang telah teruji kebenarannya tersebut. Secara umum metodis adalah metode ilmiah untuk menguji kebenaran suatu ilmu.
3.      Sistematis
Suatu ilmu harus bersifat sistematis. Hal ini dimaksudkan agar objek dari suatu ilmu tersebut dapat terurai secara teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, serta mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat yang menyangkut objek ilmu itu sendiri.
4.      Universal
Jelas dalam menemukan suatu ilmu tertentu harus memiliki sifat universal. Hal ini untuk menentukan ilmu tersebut dapat dipergunakan secara luas atau tidak. Seperti ilmu matematika dan ilmu fisika yang memiliki rumus-rumus yang valid sehingga dibelahan dunia manapun, ilmu tersebut dapat digunakan dan dapat diterima secara luas.

B.     Ilmu Sebagai Rangkaian Aktivitas
            Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.[2]
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Yang dimaksud dengan pemikiran rasional (rational thought) ialah pemikiran yang mematuhi kaidah-kaidah logika, baik logika tradisional maupun logika modern. Misalnya kaidah pemikiran bahwa sesuatu hal tidak dapat pada waktu yang bersamaan sekaligus adalah A dan non-A.
Sebagai contoh dalam ilmu tidak boleh dinyatakan bahwa matahari bersinar dan sekaligus juga tak bersinar atau bahwa sebuah tabung hampa dan pada saat yang bersamaan nonhampa (atau berisi).
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.

C.    Tujuan Ilmu Menurut Para Ahli
Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.Maka, berdasarkan konsep di atas, jelaslah bahwa dengan kata teologi pada serangkaian aktivitas tersebut menggagaskan bahwa ilmu merupakan serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan apakah itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu. [3]
Corak teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan, dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuan.
Dalam hal ini terjadilah kejamakan dan keanekaragaman tujuan karena masing-masing ilmuwan merumuskan suatu tujuan yang berbeda satu sama lain. Pendapat-pendapat yang berlainan dari berbagai ilmuwan atau filsuf tetnang ilmu tersebut dapat dikutipkan di bawah ini:
1.      Pernyataan Robert Ackermann
“Kadang-kadang dikatakan bahwa tujuan ilmu ialah mengendalikan alam, dan kadang-kadang ialah untuk memahami alam.
2.      Pernyataan Francois Bacon
“Tujuan sah dan senyatanya dari ilmu-ilmu adalah sumbangan terhadap hidup manusia dengan ciptaan-ciptaan baru dan kekayaan.
3.      Pernyataan Jacob Bronowski
“Tujuan ilmun ialah menemukan apa yang benar mengenai dunia ini.Aktivitas ilmu diarahkan untuk mencari kebenaran, dan ini dinilai dengan ukuran apakah benar terhadap fakta-fakta.”
4.      Pernyataan Mario Bunge
“Pertama-tama, meningkatkan pengetahuan kita (tujuan intrinsik dan kognitif); kelanjutannya, meningkatkan kesejahteraan dan kekuasaan kita (tujuan ekstrinsik atau kemanfaatan).
5.      Pernyataan Enrico Cantore
“Tujuannya ialah menemukan struktur yang terpahami dari realitas yang dapat diamati atau alam.”
D.    Peran Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian
Ilmu mempunyai peran yang cukup besar dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh seseorang dalam eksperimennya. Melalui ilmu seseorang dapat menyalurkan beberapa gagasan yang dapat digabungkan dengan kehidupan di sekitarnya. Ilmu bersifat luas. Ilmu memiliki cakupan bidang yang sangat sistematis. Banyak yang dapat kita pelajari melalui ilmu, seperti ilmu alam, ilmu teknologi, ilmu sosial, ilmu budaya dan lain-lain. Masing-masing cakupan ilmu memiliki karakter dan metode yang berbeda dalam penerapanya.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teologis. Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.[4]
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa „‟benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional‟‟. Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif, bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Dijelaskannya lebih lanjut demikian: “Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”. Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan.
Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan. Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu.[5] Hal ini ditegaskan dalam The International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan. Ilmu sebagai aktivitas penelitian merupakan bagian dari kesatuan proses ilmiah yang dialami manusia. rangkaian aktivitas tersebut bersifat rasional, kognitif, dan teologi.
Aktivitas rasional berarti aktivitas yang mengaktifkan daya pikir / penalaran logis dari kemampuan berpikir manusia. Sedangkan aktivitas kognitif ini berpusat pada konsep-konsep pengetahuan yang belum pernah dialami oleh manusia. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal dan ilmu sebagai aktivitas teologis berarti ilmu ada sebagai perwujudan dari tujuan-tujuan tertentu. Yang mana para tokoh mencari ilmu untuk meraih tujuan-tujuan mereka.

E.     Tahap-tahap Penelitian
Penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dilaksanakan dengan tahapan-tahapan berikut :
1.      Tahap orientasi
Dalam tahap ini, peneliti akan mengumpulkan data secara umum. Orientasi bertujuan untuk mengetahui pemetaan masalah yang akan diteliti sehingga jelas dan terarah. Hal ini dilakukan dengan wawancara dan observasi secara umum dan terbuka untuk memperoleh informasi yang luas tentang objek penelitian.
2.      Tahap eksplorasi
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang lebih spesifik. Observasi dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan fokus penelitian. Wawancara dilakukan lebih terstruktur dengan mendalam sehingga informasi mendalam dan bermakna bisa diperoleh. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang berkepentingan dan mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang masalah penelitian itu sendiri.[6]
3.      Tahap membercheck.
Dalam kegiatan wawancara dan pengamatan, data yang terkumpul dicatat dan dibuat dalam bentuk laporan. Hasilnya dikemukakan untuk dicek kebenarannya. Maksudnya setelah seluruh data yang diinginkan berhasil dikumpulkan, kemudian dilakukan pengecekan dengan benar untuk mencapai keabsahan serta relevansi data dengan permasalahan yang diajukan sebelumnya. Agar hasil penelitiannya sahih (benar), membercheck dilakukan setelah wawancara.




[1] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Jogjakarta: Liberti, 2000), hal. 84
[2] Yuyun Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hal. 143

[3] Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hal. 17
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 112 
[5] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 132
[6] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta: Kanisius, 1998), hal. 82. 

Post a Comment

0 Comments