SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN (K5)

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN

A.    Zaman Purba (15 SM – 7 SM)

      Diskursus perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang semakin pesat dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari diskursus tentang akar sejarah perkembangannya yang sering dijumpai dalam filsafat ilmu sebagai metode filsafati dari hal tersebut, 
    Munculnya ilmuwan yang digolongkan sebagai filosof bukan saja karena mendasarkan filosofinya, pada sejarah ilmu pengetahuan tetapi juga mereka meyakini adanya hubungan antara sejarah ilmu pengetahuan dengan filsafat.  Demikian halnya dengan Filsafat ilmu, sejarah tentang berbagai kemajuan perkembangannya sangat membantu kita untuk dapat lebih mengenal dan memahami Filsafat Ilmu itu sendiri sebab pengetahuan tentang sejarah perkembangan suatu aspek ilmu pengetahuan akan sangat membantu dalam memahami hal tersebut. Filsafat Ilmu yang merupakan penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara memperolehnya telah berkembang seiring perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Perkembangan pengetahuan dan kebudayaan manusia pada zaman purba dapat diruntut jauh kebelakang, bahkan sebelum abad ke-15 SM, terutama pada zaman batu. Pengetahuan pada masa itu diarahkan pada pengetahuan yang bersifat praktis, yaitu pengetahuan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.  Kapan mulainya zaman batu tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun para ahli berpendapat bahwa zaman
batu berlangsung selama jutaan tahun.

      Sesuai dengan namanya, zaman batu, pada masa itu manusia menggunakan batu sebagai peralatan. Hal ini tampak dari temuan-temuan seperti kampak yang digunakan untuk memotong dan membelah. Selain menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu, manusia pada zaman itu juga menggunakan tulang binatang. Alat yang terbuat dari tulang binatang antara lain digunakan menerupai fungsi jarum untuk menjahit, tombak berburu dan lain sebagainya. Jadi, ditimukannya benda hasil peninggalan pada zaman batu merupakan suatu bukti bahwa manusia sebagai makhluk berbudaya mampu berkreasi untuk mengatasi tantangan alam sekitarnya.
    Menurut Anna Poedjiadi (1987) pada zaman purba perkembangan pengetahuan telah tampak  pada beberapa bangsa, seperti Mesir, Babylonia, China dan India. Ada keterkaitan dan saling berpengaruh antara perkembangan pemikiran di suatu  wilayah dengan wilayah lainnya. Pembuatan alat-alat perunggu di Mesir pada abad ke-17 SM memberi pengaruh terhadap perkembangan teknik yang diterapkan di Eropa. Bangsa China abad ke-15 SM juga telah mengembangkan teknik perlatan perunggu di zaman Dinasti Shang, sedangkan peralatan besi sebagai perangkat perang sudah dikenal pada abad ke-5 SM pada zaman Dinasti Chin. Sementara India  memberikan sumbangsih yang besar dalam perkembangan matematik dengan penemuan sistem bilangan desimal.     Secara umum dapat dinyatakan bahwa pengetahuan pada zaman purba ditandai dengan adanya  lima kemampuan, yaitu:
1. Pengetahuan didasarkan pada pengalaman (empirical knowledge),
2. Pengetahuan berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan sikap receptive mind, dan kalaupun ada keterangan tentang fakta tersebut, maka keterangan itu bersifat mistis, magis dan religius,
3. Kemempuan menemukan abjad dengan sistem bilangan yang sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat abstraksi,
4. Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender yang didasarkan atas sintesis terhadap hasil abstraksi yang dilakukan, dan
5. Kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar peristiwa-peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi, misalnya gerhana bulan dan matahari (Santoso, 1977:27-28).

B.   Zaman Yunani (7 SM – 6 M)
  Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Bangsa Yunani pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude(sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap seperti inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang  masa.
    Selain daripada Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai juga dikenal dengan masa Helinistis. Pada zaman Alexander Agung telah berkembang  sebuah kebudayaan trans nasional yang disebut dengan kebudayaan Helinistis, karena kebudayaan Yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota Yunani raja, tetapi mencakup juga seluruh wilayah yang ditatlukkan Alexander Agung.   Pada masa Helinis ini muncul beberapa aliran berikut:
a.  Stoisisme
Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
b.  Epikurisme
Segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa.
c.   Skeptisisme
Mereka berpikir bahwa bidang teoretis menusia tidak sanggunp mencapai kebenaran. Sikap umum mereka adalah kesangsian.
d.  Eklektisisme
Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur, filsafat aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
e.   Neo Platonisme
Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filasafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari ‘yang satu’ dan ingin kembali kepadanya. (K. Bertens, 1988).

C.   Zaman Pertengahan (6 M – 15 M)
      Zaman pertengahan merupakan suatu kurun waktu yang ada hubungannya dengan sejarah bangsa-bangsa yang di Benua Eropa. Pengertian umum tentang zaman pertengahan yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan ialah  suatu periode panjang yang yang dimulai dari jatuhnya kekaisaran Romawi Barat tahun 476 M hingga timbulnya Renaissance di Italia.
  Zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari agama Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu. Pada umumnya orang Romawi sibuk dengan masalah keagamaan tanpa memperhatikan masalah duniawi dan ilmu pengetahuan. Pada masa itu yang tampil dalam ilmu pengetahuan adalah para teolog. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama.
      Menjelang berakhirnya abad tengah, ada beberapa kemajuan yang tamapak dalam masyarakat yang berupa penemuan-penemuan. Penemuan-penemuan  tersebut antara lain pembaruan penggunaan bajak yang dapat mengurangi penggunaan energi petani. Kincir air mulai digunakan untuk menggiling jagung. Pada abad ke-13 ada pula kemajuan dan pembaruan dalam bidang perkapalan dan navigasi pelayaran. Perlengkapan kapal memperoleh kemajuan sehingga kapal dapat digunakan lebih efektif. Kompas mulai digunakan di Eropa. Keterampilan dalam membuat tekstil dan pengolahan kulit memperoleh kemajuan setelah orang mengenal alat pemintal kapas.
    Keterampilan lain yang penting pada masa akhir abad tengah adalah keterampilan dalam pembuatan kertas. Keterampilan ini berasal dari Cina dan dibawa oleh orang-orang Islam ke Spanyol. Disamping itu orang  juga tela mengenal percetakan dan pembuatan bahan peledak.

D.   Zaman Reaissance (14 M – 17 M)
        Zaman Reaissance ditandai dengan era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Reaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan Abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada Zaman Reaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, dan Galileo Galilei. Berikut cuplikan pemikiran para filsuf tersebut.
1) Roger Bacon, berpendapat bahwa pengalaman (empiris)  menjadi landasan utama bagi awal dan ujian akhir bagi semua ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat mutlak untuk  mengolah semua pengetahuan.
2) Copernicus, mengatakan bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari, sehingga matahari menjadi pusat (beliosentrisisme). Pendapat ini berlawanan dengan pendapat umum yang bersala dari Hipparahus dan Ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (Geosentrisme).
3) Johannes Keppler, menemukan tiga buah hukum yang melengkapi penyelidikan Brahe sebelumnya, yaitu:
a. Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan cirde, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet berbentuk elips.
b. Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
c. Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 X3 :Y3.

4)  Galileo Galilei, membuat sebuah teropong bntang yang terbesar pada masi itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa sewcara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa penting dalam bidangv astronomi. Ia melihat bahwa planet Venus dan Merkurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan cahaya memantulkan cahaya dari matahari (Rizal Mustansyir, 1996).

E.  Zaman Modern (17 M – 19 M)
        Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak Zaman Reaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teori Struggle for life (perjuangan untuk hidup). J.J Thompson dengan tenuannya elektron.
    Berikut penjelasan sekilas dari filsuf-filsuf tersebut:
1. Rene Descartes, menemukan dalam ilmu pasti ialah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Karena sistem tersebut didasarkan pada dua garis lurus yang berpotongan garis lurus, maka sistem koordinat itu dinamaka ortbogonalcoordinate system. 
2. Isaac Newton, berperan dalam ilmu pengetahuan modern terutama penemuannya dalam tiga bidang, yaitu teori Gravitasi, perhitungan Calculus, dan Optika. Ketiga bidang tersebut dapat diuraikan (dalam Rizal Mustansyir, 1996). Secara singkat adalah sebagai berikut.

   ke tiga bidang tersebut dapat diuraikan (dalam Rizal Mustansyir, 1996). Secara singkat adalah sebagai berikut:
A. Teori Gravitasi menerangkan bahwa planet tidak bergerak lurus, namun mengikuti lintasan elips, karena adanya pengaruh gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda berdekatan. Teori gravitasi ini dapat menerangkan dasar dari semua lintasan plan  et dan bulan, pengaruh pasang-surutnya air samudera, dan peristiwa astronomi lainnya. Teori  Gravitasi Newton ini dipergunakan oleh para ahli berikutnya untuk pembuktian laboratorium  dan penemuan planet baru di alam semesta.
B. Perhitungan Calculus, yaitu hubungan antara X dan Y. Kalau X bertambah, makaY akan bertambah pula, tetapi menurut ketentuan yang tetap atau teratur.
C. Optika atau mengenai cahaya; jika cahaya matahari dilewatkan sebuah prisma, maka cahaya asli yang kelihatannya homogen menjadi terbias antara merah sampai ungu, menjadi pelangi. Kemudian kalau pelangi itu dilewatkan sebuah prisma lainnya yang terbalik, maka pelangi terkumpul kembali menjadi cahaya homogen. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa cahaya itu sesungguhnya terdiri atas komponen yang terbentang antara merah dan ungu.





F.    Zaman Kontemporer (Abad ke 20 – sekarang)
    Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman kontemporer berkembang dengan sangat cepat. Masing-masing ilmu mengembangkan disiplin keilmuannya dan berbagai macam penemuan-penemuannya. Penemuan dan penciptaan silih berganti dan makin sering. Informasi ilmiah diproduksi dengan cepat, melipat dua setiap tahun, bahkan dalamdisiplin-disiplin tertentu seperti genetika setiap dua tahun (Jacob, 1993).
   Salah seorang fisikawan termashur abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam tidak terhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan kata lain ia tidak mengakui adanya penciptaan alam. Namun pada tahun 1929, fisikawan lain bernama Hubble yang mempergunakan teropong bintang terbesar di dunia melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Observasi ini menunjukkan bahwa alam semesta itu tidak statis, melainkan dinamis sehingga meruntuhkan pendapat Einstein tentang teori kekekalan materi dan alam semesta yang statis. Berdasarkan perhitungan mengenai perbandingan jarak dan kelajuan gerak masing-masing  galaksi yang teramati, para fisikawan kontemporer lainnya seperti Garnow, Alpher dan Herman menarik kesimpulan bahwa semua galaksi di jagad raya ini semula bersatu padu dengan galaksi bimasakti, kira-kira 15 milyar tahun yang lalu. Pada saat itu terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi keseluruh jagad raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi.     Disamping teori mengenai fisika, teori alam semesta, dan lain-lain. Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kamajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya.
      Selain Einstein yang terkenal dengan teori relativitasnya, dalam sejarah ilmu pengetahuan alam juga dikenal teori kuantum dan struktur atom yang diperkenalkan oleh Max Planck di Jerman. Struktur atom dapat lebih dapat dijelaskan dengan menggunakan teori kuantum ini. Rutherfordl, Bohr, Pauli, Schroedinger adalah para ahli yang memberi sumbangan besar dalam bidang pengetahuan ini. Penemuan radioaktivitas oleh Becquerel dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan untuk penelitian-penelitian dalam berbagai bidang. Perkembangan ilmu kelistrikan sangat pesat dan dapat  menghasilkan alat-alat yang canggih seperti komputer yang  sangat berguna dalam menunjang kegiatan penelitian guna meningkatkan kegunaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat.
  Selanjutnya dalam media komunikasi, penemuan mesin cetak merupakan peristiwa yang sangat penting, yang dimanfaatkan dengan baik pertama di Eropa. Penyebaran informasi melonjak dengan luar biasa. Media elektronik kemudian merevolusi informasi dengan televisi, koran jarak jauh (telezitting), dan lain-lain, sehingga dunia menjadi sangat kecil, dan orang tidak mau menerima begitu saja apa yang diperolehnya dalam hidupnya sekarang, apalagi nasib yang diterimanya sewaktu dilahirkan. Sekarang mikroelektronik  dan multimedia membawa kita ke masyarakat informasi yang sanggup menyajikan gambar, suara dan cetakan sekaligus dan dapat bersifat individual dan personal.
  Kemajuan ilmu pengetahuan mengubah masyarakat dari tahapan prailmiah dengan kehidupan berladang dan beternak yang dipengaruhi oleh banyak hal yang eksternatural ketahapan ilmiah dengan kehidupan kota dan komunikasi yang padat. Di beberapa negara, masyarakat telah bergerak ke tahapan pascailmiah dengan ketergantungan informasi yang lebih banyak dan pada komputer sebagai sistem eksper untuk mengolahnya. Seluruh kehidupan praktis sudah terkomersialisasi. Kebutuhan dan produksi mulai dipertukarkan melalui alat penukar surat atau kartu berharga sampai sampai ke perbankan elektronik, yang berlangsung dengan intensif  dan cepat, sehingga sukar diketahui masing-masing dimulai oleh siapa, dimana dan bilamana.  Di sisi lain pada zaman kontemporer ini, perkembangan ilmu juga ditandai dengan terjadinya spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemorer hanya mengetahui hal yang sedikit tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialisasi dan subspesialisasinya.
      Akibat dari semakin terspesialisasinya ilmu, pengkajian suatu bidang keilmuan makin sempit ditambah dengan berbagai pembatasan dalam pengkajiannya seperti postulat, asumsi dan prinsip sehingga membuat lingkup penglihatan keilmuan makin bertambah sempit pula. Hal inilah yang menimbulkan gejala deformation professionelle yakni perubahan bentuk sebuah wujud dilihat dari kacamata professional.

Post a Comment

0 Comments