AKAL DALAM PANDANGAN ALQURAN

Definisi Akal


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya.[1] Menurut tinjauan Al Qur’an akal adalah Hujjah atau dengan kata lain merupakan anugerah Allah SWT. Yang cukup hebat denannya manusia dibedakan dari mahluk lain. Akal juga merupakan alat yang dapat menyampaikan kebenaran dan sekaligus sebagai pembukti dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta apa yang ditemukannya dapat dipastikan kebenarannya, asal saja persyaratan-persyaratan fungsi kerjanya dijaga dan tidak diabaikan.[2]

Dalam  Eksiklopaedi  bahasa  Arab,  lisân  al-'Arâb,  pakar  bahasa  Arab  kenamaan,  Sîbawayh, menjelaskan bahwa akal adalah sifat; 'uqila lahu shay'un berarti dijaga atau diikat (hubisa) akalnya dan dibatasi. U'tuqila lisânuhu idhâ hubisa wa muni'a l-kalâm (u'tuqila lidahnya, jika ia dibatasi dan dilarang  berbicara), 'aqaltu  al-ba'ir,  berarti  saya  telah  mengikat  keempat  kaki  unta.  Ibnu  Bari mengartikan  akal  dalam  syairnya  sebagai  sesuatu  yang  memberikan  kesabaran  dan  wejangan (maw'izah)  bagi  orang  yang mempunyai  kebutuhan  (hâjah).  Sehingga  dikatakan:  al-'âqil  alladhî yahbisu nafsahu wa  yarudduhû  'an hawâhâ  (orang berakal adalah yang mampu mengekang hawa nafsunya dan menolaknya). Maka, kata ma'qûl (masuk akal) berarti mâ  ta'qiluhu bi qalbika, yaitu sesuatu yang kamu nalar dengan hati/kalbumu. Selanjutnya  dijelaskan  bahwa  akal  berarti  kepastian  (verification, making  sure,  certitude)  dalam segala perkara.[3]

Kata akal yang sudah menjad kata Indonesia, berasal dari kata Arab, yaitu al-Aql dalam kata benda yang tidak terdapat dalam Alquran hanya membawa bentuk kata kerja, yaitu ‘Aqalun dalam satu ayat, ta’qilun 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qilun 22 ayat. Kata-kata tersebut berarti paham atau mengerti. Hal tersebut sebagai firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah: 75, sebagai berikut:

Artinya:  Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Q.S. al-Baqarah: 75)

 

Ayat tersebut menjelskan tentang makna pemikiran atau akal. Ibnu Katsir menafsirkan “An yu-minum” berati golongan yang sesat dari kalangan orang-orang Yahudi itu mau tunduk dengan taat kepada kalian, yaitu mereka yang kakek moyangnya telah menyaksikan berbagai mukjizat yang jelas dengan mata kepala mereka sendiri, tetatpi ternyata hati mereka menjadi keras sesudah itu.[1]

Pada hal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, yaitu menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya. Hal itu mereka lakukan setelah mereka memahaminya dengan pemahaman yang jelas. Tetapi mereka menyimpang dengan sepengetahuan mereka, dan menyadari bahwa perubahan dan takwil keliru yang mereka lakukan itu benar-benar salah.



[1]Ibnu Katsir, Tafsir Alquran, Juz. I, (Kairo: Dar al-Taufiqiyah li al-Turats, 2009), hal. 256 



[1]Departemen RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Lentera Hati, 1990), hal. 154

 

[2]Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Aql..., hal. 605

 

[3]Abdul Lathif Said, Ensiklopedia Komplit Menguasai Bahasa Arab, (Jakarta: Mitra Pustaka, 1998), hal. 521

Post a Comment

0 Comments