KONSEP AKAL DALAM ALQUR'AN

 


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan mahkluk yang lainnya. Atas kelebihan-kelebihan ini, bahkan Allah menyatakan manusia sebagai makluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Q.S. at-Tin: 4, sebagai berikut

Artinya:  Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. at-Tin: 4)

            Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sehingga manusia memiliki kelebihan utama. Salah satu kelebihan yang diberikan kepada manusia sebagai makhluk paling sempurna adalah adanya akal yang hanya diberikan Allah kepadanya. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.

            Ayat tersebut ditafsirkan oleh Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar menjelaskan bahwa di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini manusialah yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk; bentuk lahir dan batin.[1]

Harun Nasution sangat menganjurkan umat Islam untuk berfikir dan menunjukan bahwa akal sendiri mempunyai kedudukan yang tinggi dalam al-Quran dan al-Hadits.[2] Sedangkan Quraish Shihab mengingatkan akan bahayanya akal jika diberi peranan melebihi porsinya. Meski penghormatan Islam terhadap akal sedemikian besar, bukan berarti seseorang lantas semaunya mempergunakan akal, seseorang lantas diperbudak oleh akalnya sendiri. Hingga, setiap masalah dihadapi hanya oleh kekuatan akalnya. Terlebih dalam masalah yang berkaitan dengan agama.

Kelompok yang berprinsip bahwa naql (wahyu/nash) tidak boleh bertentangan dengan akal. Oleh karena itu, setiap masalah syari'at bisa dicerna oleh akal. Dan jika ada suatu nash yang nampak (menurut mereka) bertentangan dengan akal, niscaya mereka akan mena`wilkan nash tersebut, sehingga selaras dengan akalnya. Pola pikir semacam inilah yang akhirnya menjungkir balikkan nash-nash yang telah dipahami dan diyakini oleh para salafu alummah dulu. Dari pola pemahaman yang demikian, lantas lahir beragam ta`wil, yang pada hakikatnya dapat menafikan sifat-sifat Allah, nikmat dan adzab kubur, surga dan neraka, qada dan qadar Allah.[3]

Karena kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah, manusia diangkat derajatnya melebihi malaikat. Tapi pada saat yang sama, karena tak mampu menfungsikan akal dengan benar, manusia dapat menduduki derajat yang paling hina, lebih rendah derajatnya dibanding hewan. Hal ini sebagaimana firnan Allah Q.S. al-A’raaf: 179

Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. al-A’raaf: 179).

 

Ayat tersebut menjelaskan fungsi hati atau akal dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya Allah menjadikan akal dan hati kepada manusia adalah dapat mempergunakan pada tempat yang diperintahkan, salah atunya untuk memahami ayat-ayat Allah. Dalam pandangan Allah manusia tersebut seperti binatang bahkan lebih sesat. Menurut Ibnu Katsir, penggalan ayat berikut:

Artinya: mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah

 

Ayat tersebut menafsirkan bahwa dengan kata lain, mereka (manusia) tidak memanfaatkan sesuatu pun dari indera-indera ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai sarana untuk mendapat hidayah.[1] Sedangkan penggalan kata dalam surat al-‘Araf: 179

Artinya: mereka itu seperti binatang ternak

Maksudnya mereka tidak mau mendengar perkara yang hak, tidak mau menolongnya serta tidak mau melihat jalan hidayah adalah seperti binatang ternak yang terlepas bebas. Mereka tidak memanfaatkan indera-indera tersebut kecuali hanya yang berkaitan dengan masalah keduniawiannya saja.[1] Sedangkan kata

Artinya: Bahkan meraka lebih sesat lagi,

Maksudnya lebih sesat dari pada hewan ternak, karena hewan ternak adakalanya memenuhi seruan pengembalanya di saat pengembalanya memanggilnya, sekalipun ia tidak mengerti apa yang diucapkan pengembalanya. Lain halnya dengan mereka. Hewan ternak melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya, adakalanya berdasarkan tabiat, adakalanya pula karena ditundukkan. Lain halnya dengan orang kafir, karena sesungguhnya dia diciptakan hanya semata-mata untuk menyembah Allah dan mengesakan-Nya, tetapi ternyata dia kafir dan mempersekutukannya.[1]

            Dengan demikian disimpulkan bahwa barang siapa yang taat kepada Allah, maka dia lebih mulia dari pada  malaikat kelak di hari dia kembali ke alam akhirat, dan barang siapa yang kafir kepada Allah, maka hewan ternak lebih sempurna dari padanya.


 

[1]Ibid., hal. 257


 

[1]Ibid., hal. 256


[1]Ibnu Katsir, Tafsir ..., hal. 256  


[1]Buya Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz. II, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hal. 687

 

[2]Harun Nasution, Islam Rasional, (Jakarta:  Mizan, 1995), hal. 235

 

[3]Quraisy Syihab, Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas Akal dalam Islam, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), hal. 56


Post a Comment

0 Comments