Pendidikan dan Lingkungan Sosial
Pendidikan berkenaan dengan pengembangan pengetahuan, perilaku, dan sikap anak didik. Pendidikan berkaitan erat dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakukan lainnya kepada generasi muda. Pendidikan adalah proses belajar dan mengajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang dihgarapkan oleh masyarakat.[1]
Menurut Nasution, kelakuan manusia
hampir seluruhnya bersifat sosial, yakni dipelajari dalam interkasi dengan
manusia lainnya. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil
hubungan kita dengan orang lain di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan,
dan sebagainya. Bahkan pelajaran atau isi pendidikan ditentukan oleh kelompok
atau masyarakat tempat anak didik melaksanakan pendidikan.[2]
Bagi masyarakat sendiri hakikat
pendidikan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya.
Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota
mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan, dan bentuk
tata perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggota. Setiap
masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu
sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui
pendidikan, secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan
dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.[3]
Dalam pengertian tersebut,
pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali berinteraksi
dengan lingkungan eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Seorang bayi yang
baru lahir tentunya hidup dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali.
Menyadari hal demikian sang ibu berupaya memberikan segala bentuk curahan kasih
sayang dan buaian cinta kasih melalui air susunya, perawatan yang lembut serta
gendongan yang begitu mesra kepada si bayi. Begitulah proses tersebut
berlangsung selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan intensif dari
manusia lain. Sampai pada umur lima tahun bayi itu tumbuh dan berkembang dengan
sehat di dalam mahligai cinta kasih perpaduan sepasang manusia yang menjadi
orang tuanya.
Dari sini bisa kita sadari
selain anggota keluarga baru itu belajar mengetahui, mempelajari serta melakukan
berbagai reaksi terhadap stimulus dari dunia barunyamaka bisa kita cermati pula
bahwa sang bayi juga memahami esensi nilai-nilai kemanusiaan dari keluarganya
dalam bentuk gerak tubuh, belajar berbicara, tertawa serta semua tindak tanduk
yang menggambarkan bahwa jiwa raganya telah terpaut erat oleh belaian kasih
sayang manusia dewasa. Ilustrasi di atas hanyalah sekelumit kecil dari siklus
belajar individu di dalam masyarakat. Proses tersebut berlangsung pula ketika
kita menjadi manusia dewasa
Apabila kita memenuhi kewajiban
sebagai saudara laki-laki, suami atau warga Negara serta menjalankan hal-hal
lain yang tertanam kuat dalam benak kesadaran kita, itu berarti kita melakukan
tugas yang sudah ditentukan secara eksternal oleh hukum-hukum kodrat social dan
kebiasaan-kebiasaan yang berkembang begitu alamiah dari lingkungan sosial.
Kewajiban itu muncul bukan
hasil dari proses pemaksaan eksternal yang mekanistis melainkan selalu diikuti
oleh gejala resiprositas individu dengan lingkungan luarnya sehingga pada tahap
akhirnya masyarakat telah menghasilkan ribuan atau bahkan jutaan manusia yang
tunduk lahir batin dengan ketentuan-ketentuan kolektif.

0 Comments
nama :