Berfilsafat termasuk dalam berpikir, namun berfilsafat tidak identik dengan berpikir. Sehingga, tidak semua orang yang berpikir itu mesti berfilsafat, dan bisa dipastikan bahwa semua orang yang berfilsafat itu pasti berfikir.
Sebagai contoh, seorang siswa yang berfikir bagaimana agar bisa lulus dalam Ujian Akhir Nasional, maka siswa ini tidaklah sedang berfilsafat atau berfikir secara kefilsafatan melainkan berfikir biasa yang jawabannya tidak memerlukan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu ada beberapa ciri berfikir secara kefilsafatan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Suhasrsaputra, bahwa ciri-ciri berpikir filsafat adalah radikal, universal (umum), konseptual, koheren dan konsisten, sistematik, komprehensif, bebas dan bertanggung jawab.[1]Dari beberapa
ciri-ciri berpikir tersebut dapat diuraikan secara terperinci, sebagai berikut:
(a) Radikal
Berfikir secara radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya. Radikal
berasal dari kata Yunani radix yang
berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar-akarnya adalah berfikir
sampai pada hakekat, esensi atau sampai pada substansi
yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat
menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala
pengetahuan indrawi.[2]
(b) Universal (umum).
Berpikir
secara universal atau umum adalah berfikir tentang hal-hal serta
suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah
keumuman yang diperoleh dari hal-hal yang bersifat khusus yang ada dalam
kenyataan.[3]
(c) Konseptual.
Berfikir secara konseptual, yaitu berpikir mengenai hasil generalisasi dan abstraksi
dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara
kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap
perbuatan-perbuatanbebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana
yang biasa dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan
pemikiran “apakah kebebasan itu”?
(d) Koheren dan konsisten
Berfikir secara koheren dan konsisten, artinya berfikir sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir dan tidak mengandung kontradiksi atau
dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut.[4]
(e) Sistematik
Berfikir secara sistematik, yaitu mengemukakan jawaban terhadap suatu
masalah, para filsuf memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses berfilsafat. Pendapat-pendapat itu harus
saling berhubungan secara teratur dan terkandung maksud dan tujuan tertentu.
(f) Komprehensif
(menyeluruh)
Berfikir secara komprehensif (menyeluruh).
Berfikir secara filsafat berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara
keseluruhan
atau berpikir tentang sesuatu dari berbagai sudut
(multidimensi).
(g) Bebas
Berfikir secara bebas. Bebas dari
prasangka-prasangka sosial, historis, kultural ataupun religius. Berfikir
dengan bebas itu bukan berarti sembarangan, sesuka hati, atau anarkhis, sebaliknya bahwa berfikir bebas adalah
berfikir secara terikat. akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari
kaidah-kaidah, dari disiplin fikiran itu sendiri. Dengan demikian pikiran dari
luar sangat bebas, namun dari dalam sangatlah terikat.
(h) Bertanggung jawab
Berfikir atau pemikiran yang
bertanggungjawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati
nuraninya sendiri. Seorang filsuf seolah-olah mendapat panggilan untuk
membiarkan pikirannya menjelajahi kenyataan. Namun, fase berikutnya adalah
bagaimana ia merumuskan pikiran-pikirannya itu agar dapat dikomunikasikan pada
orang lain serta dipertanggungjawabkan.[5]
Dari beberapa uraian
tentang ciri-cri berpikir filsafat di atas, pendapat yang senada juga
dikekukakan oleh Uhar Suharsaputra, bahwa ciri-ciri berpikir filsafat adalah
metodis, radikal, universal (umum), konseptual, koheren dan konsisten,
sistematik, komprehensif, bebas dan bertanggung jawab.[6]
Dari ciri-ciri tersebut, yang membedakan dengan ciri-ciri dalam pendapat
sebelumnya adalah metodis, yaitu berpikir dengan menggunakan metode, cara,
yang lazim digunakan oleh filsuf (ahli filsafat) dalam proses berfikir.
0 Comments
nama :