Upaya memahami apa yang dimaksud dengan filsafat dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Secara umum, pendekatan yang diambil dapat dikategorikan berdasarkan sudut pandang terhadap filsafat, yaitu filsafat sebagai produk dan filsafat sebagai proses.
Filsafat sebagai produk, artinya melihat filsafat sebagai kumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh filsuf. Sedangkan filsafat sebagai proses, yaitu filsafat sebagai suatu bentuk atau cara berpikir yang sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir filsafat.[1] Menurut Dony Gahral Adian, terdapat
“empat pendekatan dalam memahami filsafat, yaitu pendekatan definisi,
sistematika, tokoh, dan
pendekatan sejarah (historis)”.[2]
Keempat pendekatan filsafat tersebut dapat diuraikan secara mendalam, sebagai
berikut:
1. Pendekatan definisi
Dalam pendekatan definisi tersebut mencoba
memahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dan dalam
hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu
sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep
yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat
itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat.
Menurut Dony Gahral Ardian, Di dalam filsafat memiliki tiga jenis pendekatan, yaitu pendekatan epistimologi, pendekatan
ontologi, dan pendekatan aksiologi.[3]
Ketiga pendekatan tersebut diuraikan sebagai berikut:
a) Pendekatan Epistimologi
Epistemologi atau teori pengetahuan berhubungan
dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya
serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal
dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode
deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.[4]
Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian
dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi ilmu, dan batasan-batasan
pengetahuan.Dan dari sisi ini, ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi
pokok-pokok pembahasannya. Dengan demikian, ilmu yang diartikan sebagai
keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek
dalam epistemologi.
b) Pendekatan Ontologi
Ontologi
adalah bagian metafisika yang mempersoalkan tentang hal-hal yang berkenaan
dengan segala sesuatu yang ada atau the existence khususnya esensinya. Dalam dictionary
of philosophy, James K Frebleman
mengatakan bahwa ontologi adalah “the
theory of being qua being” teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Menurut Aristoteles ontologi adalah the first of philosophy dan merupakan ilmu
mengenai esensi benda.
Dari
sekian definisi tersebut
dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah salah satu bagian penting dalam
filsafat yang membahas atau mempermasalahkan hakikat-hakikat semua yang ada
baik abstrak maupun real. Ontologi di sini membahas semua yang ada
secara universal, berusaha mencari
inti yang dimuat setiap kenyataan meliputi semua realitas dalam segala
bentuknya. Jadi objek dari
ontologi adalah segala yang
ada dan tidak terikat pada satu perwujudan tertentu(hakikat). Hasbullah Bakry mengatakan bahwa ontologi mempersoalkan bagaimana
menerangkan hakekat segala yang ada,
baik jasmani maupun rohani dan hubungan antara keduanya.[5]
c) Pendekatan Aksiologi
Secara etimologi, kata “aksiologi” berasal
dari bahasa Yunani, yaitu “axios” berarti “nilai”, dan “ logos”
berarti “teori”.[6]
Dari kedua penggalan kata tersebut, aksiologi adalah teori tentang nilai.
Menurut Jujun S. Suriasumantri, mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[7]
Sejalan dengan itu, Wibisono menjelaskan,
bahwa “aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran
(ilmiah), etika, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan
penggalian, serta penerapan ilmu”.[8]
Kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa aksiologi adalah suatu cabang
ilmu yang mempelajari tentang teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperolehnya dan bagaimana suatu ilmu digunakan, sebagai tolok
ukur kebenaran yang berlandaskan nilai-nilai normatif (etika dan moral).
Aksiologi
merupakan cabang filsafat yang berhubungan macam-macam dan kriteria nilai serta
keputusan atau pertimbangan dalam menilai, terutama dalam etika atau
nilai-nilai moral. Aksiologi merupakan paradigma yang berpengaruh penting dalam
penelitian ilmiah.
Aksiologi
adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang
mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan
sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa
memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan
yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu
pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.
Pembahasan
aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai.Artinya pada tahap-tahap tertentu
kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu
masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh
masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya
malahan menimbulkan bencana.
Dalam
aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan yaitu, etika dan estetika. Kedua penilaian tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:
1)
Etika
Secara istilah “etika” berasal dari bahasa
Yunani, yaitu kata “ethos” berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain
para ahli yang bergerak dalam bidang etika menyebutnya dengan “moral”. Walupun
antara kedua istilah etika dan moral ada perbedaannya, namun para ahli tersebut
tidak membedakannya dengan tegas, bahkan cenderung untuk memberi arti yang sama
secara praktis.[9]
Sedangkan secara
terminologis, etika berarti pengetahuan yang membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah
laku dan tindakan manusia serta
sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia.[10]
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa etika adalah suatu
pengetahuan yang membahas tentang baik atau buruknya tingkah laku manusia.
Selanjutnya Langeveld, memberikan
pengertian bahwa “etika adalah teori perbuatan manusia, yaitu ditimbang menurut
baik dan buruknya”.[11]
Sedangkan menurut Sudarsono, “etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik
dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.
Etika disebut pula akhlak atau moral”.[12]
Sedangkan menurut Musa Asy’ari, “etika adalah cabang filsafat yang mencari
hakikat nilai-nilai baik dan jahat yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan
seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan
pemikirannya”.[13]
Dari beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbuatan
manusia dan memandangnya dari sudut baik dan buruknya sejauh dapat dipahami
oleh pikiran manusia. Dengan demikian, berbicara etika berati akhlak, moral atau
perilaku manusia.
Etika
adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis
masalah-masalah moral. Kajian etika
lebih fokus pada prilaku, norma dan
adat istiadat manusia. Etika
merupakan salah satu cabang filsafat
tertua. Setidaknya ia telah menjadi
pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum sufis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah
kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis
Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis
dan mendasar tentang ajaran-ajaran
dan pandangan-pandangan moral.
Isi
dari pandangan-pandangan moral tersebut
sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat
istiadat manusia. Berbeda dengan
norma itu sendiri, etika tidak
menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah
pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan
dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa
yang ia lakukan.
2) Estetika
Estetika
merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di dalam diri segala sesuatu terdapat
unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis
dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek
yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan
harus juga mempunyai kepribadian. Sebenarnya
keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang
senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya
kita bangun pagi, matahari
memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasaakan
kenikmatan. Meskipun sesungguhnya
pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat.
Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek
itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal
sebenarnya tetap merupakan perasaan.
Aksiologi
berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik
itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu
sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia. Berkaitan dengan hal ini, menurut
Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun S. Suriasumantri bahwa
“pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau
justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang
disebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan
kesalahan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk
mencapai kebahagiaan hidupnya, lagi pula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak
mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam
menggunakannya.[14]
[1]Musa Asy’ari, Filsafat Islam; Sunnah Nabi dalam Berpikir, Cet. III, (Yogyakarta:
Lesfi, 2002), h. 8
[2]Dony Gahral Adian, Teknik Berargumentasi Berpikir sebagai Kecakapan Hidup, (Jakarta:
Kencana, 1993), h. 43.
[3]Ibid.,
h. 43.
[4]Ibid.,
h. 44.
[5]Hasubulah Bakry, Sitematik Filsafat, (Solo: Sitti Syamsijah, 1984), h. 53.
[6]Burhanuddin Salam, Logika Materil; Filsafat
Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 168.
[7]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2003), hal. 333
[8]Wibisono, Aksiologi, dalam http://www.geocities.co/. diakses 27
September 2016
[9]Burhanuddin, Logika ..., hal. 168
[10]Abd Haris, Pengantar
Etika Islam. (Sidoarjo: Al-Afkar, 2007), hal. 3
[11]Langeveld, Menuju ke Pemikiran
Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1961), hal. 156
[12]Sudarsono, Filsafat suatu Pengantar, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1993), hal. 188.
[13]Musa Asy-ari, Filsafat...,hal. 89
[14]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2003), hal. 33.
0 Comments
nama :