B. Penyebaran Islam di Asia Tenggara dan Indonesia
Sejak abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh, Asia Tenggara dan Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749).
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H),
orang Muslim Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan
perdagangan sampai ke negeri China. Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650)
kaisar ke-2 dari Dinasti Tang, telah dating empat orang Muslim dari jazirah
Arabia. Yang pertama, bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua menetap
dikota Chow, yang ketiga dan keempat bermukim di Coang Chow.
Orang Muslim pertama, Sa’ad bin Abi Waqqas, adalah seorang muballigh dan
sahabat Nabi Muhammad SAW dalam sejarah Islam di China. Ia bukan saja
mendirikan masjid di Canto, yang disebut masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan
atas nabi).
Karena itu, sampai sekarang kaum Muslim
China membanggakan sejarah perkembangan Islam di negeri mereka, yang dibawa langsung
oleh sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sendiri, sejak abad ke-7 dan sesudahnya.
Makin banyak orang Muslim berdatangan ke negeri China baik sebagai pedagang
maupun mubaligh yang secara khusus melakukan penyebaran Islam. Sejak abad ke-7
dan abad selanjutnya Islam telah datang di daerah bagian Timur Asia, yaitu di
negeri China, khususnya China Selatan. Namun ini menimbulkan pertanyaan tentang
kedatangan Islam di daerah Asia Tenggara. Sebagaimana dikemukakan diatas Selat
Malaka sejak abad tersebut sudah mempunyai kedudukan penting. Karena itu, boleh
jadi para pedagang dan munaligh Arab dan Persia yang sampai di China Selatan
juga menempuh pelayaran melalui Selat Malaka. Kedatangan Islam di Asia Tenggara
dapat dihubungkan dengan pemberitaan dari I-Cing, seorang musafir Budha, yang
mengadakan perjalanan dengan kapal yang di sebutnya kapal Po-Sse di Canton pada
tahun 671. Ia kemudian berlayar menuju arah selatan ke Bhoga (di duga daerah
Palembang di Sumatera Selatan). Selain pemberitaan tersebut, dalam Hsin-Ting-Shu
dari masa Dinasti yang terdapat laporan yang menceritakan orang Ta-Shih
mempunyai niat untuk menyerang kerajaan Ho-Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima
(674).
Dari sumber tersebut, ada dua sebutan
yaitu Po-Sse dan Ta-Shih. Menurut beberapa ahli, yang dimaksud dengan Po-Sse
adalah Persia dan yang dimaksud dengan Ta-Shih adalah Arab. Jadi jelaslah bahwa
orang Persia dan Arab sudah hadir di Asia Tenggara sejak abad-7 dengan membawa
ajaran Islam.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan
ahli sejarah tentang tempat orang Ta Shih. Ada yang menyebut bahwa mereka
berada di Pesisir Barat Sumatera atau di Palembang. Namun adapula yang
memperkirakannya di Kuala Barang di daerah Terengganu. Terlepas dari beda
pendapat ini, jelas bahwa tempat tersebut berada di bagian Barat Asia Tenggara.
Juga ada pemberitaan China (sekitar tahun 758) dari Hikayat Dinasti Tang yang
melaporkan peristiwa pemberontakan yang dilakukan orang Ta-Shih dan Po-Se.
Mereka mersak dan membakar kota Canton (Guangzhoo) untuk membantu kaum petani melawan
pemerintahan Kaisar Hitsung (878-899).
Setelah
melakukan perusakan dan pembakaran kota Canton itu, orang Ta-Shih dan Po-Se
menyingkir dengan kapal. Mereka ke Kedah dan Palembang untuk meminta
perlindungan dari kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan berita ini terlihat bahwa
orang Arab dan Persia yang sudah merupakan komunitas Muslim itu mampu melakukan
kegiatan politik dan perlawanan terhadap penguasa China. Ada beberapa pendapat
dari para ahli sejarah mengenai masuknya Islam ke Indonesia :
Menurut
Zainal Arifin Abbas, Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M (684 M).
Pada tahun tersebut datang seorang pemimpin Arab ke Tiongkok dan sudah
mempunyai pengikut dari Sumatera Utara. Jadi, agama Islam masuk pertama kali ke Indonesia di Sumatera Utara.
Menurut Dr.
Hamka, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M. Berdasarkan catatan
Tiongkok , saat itu datang seorang utusan raja Arab Ta Cheh (kemungkinan
Muawiyah bin Abu Sufyan) ke Kerajaan Ho Ling (Kaling/Kalingga) untuk
membuktikan keadilan, kemakmuran dan keamanan pemerintah Ratu Shima di Jawa.
Menurut Drs. Juneid Parinduri, Agama Islam
masuk ke Indonesia pada tahun 670 M karena di Barus Tapanuli, didapatkan sebuah
makam yang berangka Haa-Miim yang berarti tahun 670 M.
Seminar
tentang masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963,
mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad I H/abad 7 M
langsung dari Arab. Daerah pertama yang didatangi ialah pasisir Sumatera.
Sedangkan perkembangan Agama Islam di Indonesia
sampai berdirinya kerajaankerajaan Islam di bagi menjadi tiga fase, antara lain
:
Singgahnya pedagang-pedagang Islam di
pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama
Cina;
Adanya
komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya di
samping berita-berita asing juga makam-makam Islam; Berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam (Abdullah, 1991:39).
------------------------
UNTUK MEMBACA POIN – A DISINI
UNTUK MEMBACA POIN – B DISINI
UNTUK MEMBACA POIN – C DISINI

0 Comments
nama :