Sejarah filsafat dibagi dalam empat masa, yaitu masa Yunani, masa pertengahan abad, dan masa abad modern. Ketiga masa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Masa Yunani
Yunani
terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang,
sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka
dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah. Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai
kepercayaan yang dianutnya, yaitu berdasarkan kekuatan alam, sehingga
beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta bersifat
formalitas. Artinya kedudukan Tuhan terpisah dengan kehidupan manusia.[1]
Kepercayaan
yang bersifat formalitas (natural
religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini ditentang oleh Homerus dengan dua buah
karyanya yang terkenal, yaitu Ilias dan Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat
nilai-nilai yang tinggi dan bersifat edukatif. Sedemikian besar peranan karya
Homerus, sama kedudukannya seperti wayang purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat
lebih kritis dan rasional.
Pada
abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang berkepercayaan sangat bersifat
rasional (cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah
dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem
kepercayaan yang natural religius berubah menjadi sistem cultural religius.
Dalam
sistem kepercayaan natural religius ini manusia terikat oleh tradisionalisme.
Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia
mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan
pemikirannya untuk menghadapai dan memecahkan berbagai kehidupan alam dengan
akal pikiran.
Ahli
pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (625-545 SM) yang berhasil mengembangkan
geometri dan matematika. Likipos dan Democritos mengembangkan teori materi,
Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan geometri
edukatif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori
tentang ide, Aristoteles mengembang teori tentang dunia dan benda serta
berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). Suatu
keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem
pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih terkenal.[2]
Para
ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep tentang asal mula alam.
Walaupun sebelumnya sudah ada tentang konsep tersebut. Akan tetapi konsepnya
bersifat mitos yaitu mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite
kosmologis (tentang asal-usul serta sifat kejadian-kejadia dalam alam semesta),
sehingga konsep mereka sebagai mencari asche (asal mula) alam semesta, dan
mereka disebutnya sebagai filosof alam.
Oleh
karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta maka corak pemikirannya
kosmosentris. Sedangkan para ahli pikir seperti Socrates, Plato dan Aristoteles
yang hidup pada masa Yunani Klasik karena arah pemikirannya pada manusia maka
corak pemikiran filsafatnya antroposentris. Hal ini disebabkan, arah pemikiran
para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subyek yang
harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.
Empat hal yang melahirkan filsafat yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan. Kesusastraan yang berkembang di Yunani Kuno dapat dijadikan landasan lahirnya filsafat. Selain untuk hiburan, kesusastraan dalam waktu yang bersamaan juga menjadi semacam teks pendidikan untuk rakyat Yunani kuno.[3]
Sejak awal abad ke-6 SM mulai berkembang pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak itu manusia mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang masalah yang ada di alam semesta. Logos (akal budi, rasio) menggantikan mitos (mythe). Di Yunani kuno logos dipakai untuk menunjuk sesuatu yang siba kita sebut makna yang tersembunyi dalam mitos. Para filsuf sedemikian rupa memahami makna kata logos untuk memisahkan kebenaran dari khayalan.
Pada tahap awal, filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Para filsuf Yunani pertama dikenal sebagai filsuf-filsuf alam. Akan tetapi, filsafat pada masa awal itu sulit untuk diuraikan dan dipaparkan secara jelas dan pasti karena banyak filsuf yang tidak menulis sesuatu apapun sehingga ajaran mereka hanya dapat diketahui dari orang lain.
Terlepas
dari keadaan dan keberadaan para filsuf yang baru mengembangkan filsafat itu,
yang penting dicatat adalah mereka berani mengayunkan langkah awal yang amat
menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan filsafat serta ilmu pengetahuan.
Mereka berani menolak dan meninggalkan cara berpikir yang irasional dan tidak
logis, kemudian menempuh jalan pemikiran yang rasional-ilmiah yang semakin lama
semakin sistematis. Selain itu kebenaran dapat didiskusikan lebih lanjut demi
meraih konsep-konsep baru dan
kebenaran baru yang diharapkan lebih sesuai dengan realitas sesungguhnya.[4]
Zaman
Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini
orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Bangsa Yunani
juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu
saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara
kritis. Selanjutnya tumbuhlah
sikap kritis yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir yang
terkenal dan sikap kritis inilah yang menjadikan cikal bakal tumbuhnya ilmu
pengetahuan modern yaitu sikap an inquiring (suatu sikap yang senang
menyelidiki sesuatu secara kritis).[5]
Pada zaman Yunani Kuno, ciri pemikiran
yang menonjol adalah kosmosentris, yang berarti mempertanyakan asal usul alam
semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula
(arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Secara umum
karakteristik filsafat Yunani kuno adalah rasionalisme, yaitu suatu pemahaman
tentang sebuah pengetahuan yang lebih mengutamakan akal atau logika.
Pada
masa Yunani Kuno pemikiran para filosof masih di dominasi agama alam, yaitu
pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu
adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi
kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan
biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi.
Selain itu Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif.
Pemikiran
Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya. Hidup pada masa yang sama dengan
mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (yang bijaksana dan berapengetahuan),
Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat,
dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi
mitologi Yunani). Pada masa Yunani Kuno berkembang pemikiran mengenai mencintai
kebenaran/pengetahuan yang merupakan awal proses manusia mau menggunakan daya
pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil mana yang ilusi.
Periode
filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia.
Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir
mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan
fenomena alam. Pada saat itu, gempa bumi bukanlah suatu fenomena biasa
melainkan suatu fenomena di mana Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya.
Orang
Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos maupun takhyul,
tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh mitologi dan mendapatkan
dasar pengetahuan ilmiah. Karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang
begitu luas dan penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu,
sehingga filosof alam berkembang pertama kali. Periode filsafat Yunani
merupakan periode sangat penting karena terjadi perubahan pola fikir manusia
dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris yaitu pola pikir
masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam.
Zaman ini berlangsung dari abad 6 M sampai dengan sekitar abad 6 M.
Filosof pada
masa Yunani Kuno beserta pemikirannya, antara lain sebagai berikut:
a. Thales (624-546 SM).
Thales
lahir di Miletus pada tahun 625-546 SM. Ia diberi gelar sebagai Bapak Filsafat
,karena Ia adalah orang yang pertama berfilsafat. Gelar itu diberikan kepada
Thales, karena ia mengajukan pertanyaan tentang “Apa sebenarnya bahan alam
semesta ini?, padahal pertanyaan ini amatlah mendasar,dari pertanyaan ini saja
ia dapat mengangkat namanya menjadi filosof pertama. Thales sebagai salah satu
dari tujuh orang yang bijaksana.
Salah satu jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun 585
SM.[6]
Hasil
pemikiran Thales yang terkenal adalah berpendapat bahwa dasar pertama atau
intisari alam ialah air. Sebagai ilmuwan pada masa itu ia mempelajari
magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Juga mengembangkan
astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat, bahwa bulan bersinar
karena memantulkan cahaya matahari.
b. Pythagoras (sekitar 500 SM)
Pythagoras
(582 SM–496 SM) , ia dilahirkan di pulau Samos, sebuah pulau
dekat pantai Lonia, tetapi menghabiskan sebagian besar
hidupnya di Croton (sebelah selatan Italia). Beliau juga di kenal sebagai “Bapak Bilangan”, dan salah satu peninggalan Pythagoras
yang terkenal adalah “Teorema
Pythagoras‘’. Selain itu, dalam ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang
teori tentang bilangan, pembentukan benda, dan menemukan antara nada dengan
panjang dawai. Selain sebagai penggagas filsafat bilangan, Pythagoras juga
dikenal baik sebagai penemu hukum geometri atau teorema yang berguna untuk
menentukan panjang sisi miring dalam segitiga.[7]
c. Socrates(470 SM -399 SM)
Socrates
(470 SM-399 SM) adalah filsuf dari Athena. Dalam sejarah umat manusia, Socrates
merupan contoh istemewa selaku filsuf yang jujur dan berani. Socrates
menciptakan metode ilmu kebidanan yang dikenal dengan ‘’Maicutika Telenhe‘’,
yaitu suatu metode dialektiva untuk melahirkan kebenaran. Menurut Plato dan Aristoteles, ia adalah
orang pertama yang memperkenalkan cara berpikir induktif dan membuat definisi
universal. Cara berpikir ini kemudian dikenal sebagai metode Sokrates. Ia juga
orang pertama di dunia yang mengemukakan bahwa di dalam diri manusia terdapat jiwa/
rohani. Ia menyadari bahwa jiwa jauh lebih penting daripada tubuh fisik dan
jiwa tidak akan mati. Karena penemuannya inilah, banyak orang menganggapnya
sebagai Bapak Psikologi Rasional. Ia
juga menemukan bahwa Tuhan hanya satu dan memiliki kekuasaan terhadap segala
sesuatu. Ia menemukan hal ini melalui pemikirannya sendiri, bukan dari
Al-Qur’an dan Injil.[8]
d. Democritus (460-370 SM)
Democritus lahir di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Democritus dikenal sebagai “Bapak Atom” karena jasanya yang telah memperkenalkan konsep atom. Akibat dari pemikirannya itu mengenai atom maka lahirlah lima sifat yang terkandung pemikiran beliau yaitu:
- Konsep materialistis-monistik yaitu atom merupakan sekedar materi yang tidak didampingi apapun karena disekelilingnya hampa.
- Konsep dinamika perkembangan yaitusegala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak sehingga berlaku prinsip dinamika.
- Konsep murni alamiah yaitu pergerakan atom itu bersifat intrinsik, primer, tanpa sebab, dan tidak dipengaruh oleh sesuatu diluar dirinya.
Pemikirannya
yang lain ialah realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur
dan jumlahnya tak terhingga. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian materi yang
sangat tidak dapat dibagi-bagi lagi. Unsur tersebut dikatakan sebagai atom yang
berasal dari satu dari yang lain karena ini tidak dijadikan dan tidak dapat
dimusnahkan, tidak berubah dan tidak berkualitas.
e. Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles lahir di Stagira, Chalcidice, Thracia, Yunani tahun 384 SM. Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia, Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM.
Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan.
Bidang ajaran Aristoteles yaitu sebagai berikut: 1) Metafisika, yaitu studi tentang being as being (ada sebagai ada). Dimana yang dimaksud being ialah mencakup segala sesuatu, dan didalam ilmu pengetahuan mempelajari sesuatu hal yang memiliki karakteristik tertentu; 2) Logika, logika Aristoteles didasarkan atas syllogisme (susunan pikir) yang terdiri atas tiga pernyataan yaitu: Premis mayor yaitu pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya, Premis minor yaitu pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil lingkupnya daripada premis mayor, Konklusi yaitu kesimpulan yang ditarik berdasarkan kedua premis tersebut yaitu premis mayor dan minor. 3) Biologi, dalam bidang ini, Aristoteles melakukan observasi terhadap telur ayam sampai terbentuknya kepala ayam dan melakukan pemeriksaan anatomi badan hewan dimana yang menjadi prioritas ialah aspek observasi sebagai suatu sarana untuk membuktikan kebenaran sesuatu hal terutama dalam ilmu empirik.
f. Plato (427 SM- 347SM)
Plato lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM. Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.Ia adalah murid Socrates dan guru dari Aristoteles, filsuf yang pertamakali membangkitkan persoalan being(hal ada) dan mempertentangkan dengan becoming( hal menjadi). Dimana tujuannya ialah sebagai cara untuk mencari dasar kebenaran pengetahuan, dan disamping itu beliau juga disebut sebagai seorang eksponen rasionalisme dan eksponen idealisme. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.[9]
Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, “negeri”) yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua. Plato berhasil mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Menurut Heraklitos segala sesuatu berubah, sedangkan Parmenides mengatakan sebaliknya, yaitu segala sesuatu itu diam. Untuk mendamaikan pandangan ini Plato berpendapat bahwa pandangan Heraklitos benar, tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga benar, tetapi hanya berlaku bagi idea-idea bersifat abadi dan idea inilah menjdai dasar bagi pengenalan yang sejati.
Plato juga sangat memperhatikan ilmu pasti sebagai peninggalan Pythagoras. Sebab ada hubungan yang erat antara kepastian, matematis, dengan kesempurnaan idea. Keterikatan Plato pada kesempurnaan idea dan kepastian matematik menjadikannya lebih memusatkan penelitian kepada cara berpikir (aspek metodis) dari pada apa yang dapat ditangkap oleh indera. Oleh karena itu, Plato dapat dikatakan seorang eksponen rasionalisme manakala ia hendak menerangkan sesuatu, namun ia juga seorang eksponen idealisme manakala menerangkan bidang nilai (aksiologis).
2. Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya
dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau
pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen.
Artinya, pemikiran filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu
didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat
teosentris.
Baru pada abad ke-6 Masehi,
setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung, maka didirikanlah
sekolah-sekolah yang memberi pelajaran gramatika, dialektika, geometri,
aritmatika, astronomi dan musik. Keadaan yang demikan akan mendorong
perkembangan pemikiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya
universitas-universitas dan ordo-ordo. Dalam ordo inilah mereka mengabdikan
dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama, seperti Anselmus (1033-1109), Abaelardus (1079-1143), Thomas Aquinas (1225- 1274).[10]
Di kalangan para ahli pikir
Islam (periode filsafat Skolastik Islam) muncul al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina,
al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Periode skolastik Islam
ini berlangsung tahun 850 – 1200. pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung
dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Akan tetapisetelah jatuhnya
kerajaan Islam di Granada di Spanyol tahun 1492 mulailah kekuasaan politik
Barat menjarah ke Timur. Suatu prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu
pengetahuan terutama dalam bidang filsafat. Di sini mereka merupakan mata
rantai yang mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang dilakukan oelh
sarjana-sarjana Islam di Timur terhadap Eropa dengan menambah pikiran-pikiran
Islam sendiri. Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap bahwa filsafat
Aristoteles adalah benar, Plato dan Al-Qur’an adalah benar, mereka mengadakan
perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian pikiran-pikiran
ini masuk ke Eropa yang merupan sumbangan Islam yang paling besar, yang besar
pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat terutama dalam
bidang teologi dan ilmu pengetahuan alam. Peralihan dari abad pertengahan ke
abad modern dalam sejarah filsafat disebut sebagai masa peralihan (masa
transisi), yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme yang berlangsung pada abad
15-16. munculnya Renaisance dan Humanisme inilah yang mengawali masa abad
modern. Mulai zaman modern inilah peranan ilmu alam kodrat sangat menonjol,
sehingga akibatnya pemikiran filsafata semakin dianggap sebagai pelayan dari teologi,
yaitu sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan
yang dapat dicapai oleh akal manusia.[11]
3. Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia
pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak
pemikirannnya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal
fikir dan pengalaman.
Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaisance dan Humanisme
sebagai awal masa abad modern. Di mana para ahli (filosof) menjadi pelopor
perkembangan filsafat (kalau pada abad pertengahan yang menjadi pelopor
perkembangan filsafat adalah para pemuka agama). Dan pemikiran filsafat masa
abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode logis ilmiah.
Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran
filsafat diarahkan pada upaya manusia agar dapat mengasai lingkungan alam
dengan menggunakan berbagai penemuan ilmiah.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode induksi/ eksperimental
dalam berbagai penelitian ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran filsafat
mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat (natural sciences).
Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai bapak filsafat modern yang berhasil
melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam dengan ilmu
pasti ke dalam pemikiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan, agar kebenaran dan
kenyataan filsafat juga sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan terang.
Pada abad ke-18, perkembangan
pemikiran filsafat mengarah kepada filsafat ilmu pengetahuan, di mana pemikiran
filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara/ sarana apa yang dipakai
untuk mencari kebenaran dan kenyataan. Sebagai tokohnya George Berkeley
(1685-1753), David Hume (1711-1776), Rousseau (1722-1778).
Di Jerman muncul Christian Wolft (1679–1754) dan Immanuel Kant (1724–1804),
yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengethuan yang pasti dan berguna,
yaitu dengan cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang
kuat.
Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Pemikiran
filsafat pada saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa
dengan pengertian dan caranya sendiri. Ada filsafat Amerika, filsafat Perancis,
filsafat Inggris, filasafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah Hegel (1770-18311),
Karl Marx (1818-1883), August Comte (1798-1857), JS. Mill (1806-1873), John Dewey (1858-1952).
Akhirnya dengan munculnya pemikiran filsafat yang bermacam-macam ini,
berakibat tidak terdapat lagi pemikiran filsafat yang mendominasi. Giliran
selanjutnya lahirlah filsafat kontemporer atau filsafat dewasa ini.
4. Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga disebut Filsafat
Kontemporer yang merupakan ciri khas pemikiran filsafat adalah desentralisasi
manusia. Karena pemikiran filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang
khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.[12]
Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah; arti kata-kata dan arti
pernyataan-pernyataan. Masalah ini muncul karena bahwa realitas sekarang ini
banyak bermunculan berbagai istilah, di mana cara pemakainnnya sering tidak
dipikirkan secara mendalam, sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beda
(bermakna ganda). Maka timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas
tentang cara berfikir untuk mengatur pemakaian kata-kata/ istilah-istilah yang
menimbulkan kerancauan, dan sekaligus dapat menunjukkan bahaya-bahaya yang
terdapat di dalamnya. Oleh karena bahasa sebagai obyek terpenting dalam
pemikiran filsafat, maka para ahli pikir menyebut sebagai logosentris. Dalam bidang etika sosial memuat
pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat di dalam masyarakat dewasa
ini.
Kemudian, pada paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliran-aliran
kefilsafatan seperti Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritika
Ilmu, Historisme, Irasionalisme, Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme.
Aliran-aliran di atas sampai sekarang tinggal sedikit yang masih bertahan.
Sedangkan pada awal belahan akhir abad ke-20 muncul aliran kefilsafatan yang
lebih dapat memberikan corak pemikiran dewasa ini seperti Filsafat Analitik,
Filsafat Eksistensi, Strukturalisme, Kritika Sosial.
[1]Ahmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 45
[2]Ibid.,
h. 46.
[3]Majid
Fakhry, Sejarah Filsafat Islam; Sebuah Peta Kronologis, (Jakarta: Pustaka Setia,
1997), h. 23.
[4]Ali Maksum, Pengantar Filsfat, (Yogjakarta:
Ar-ruzz Media, 2011), h. 53.
[5]Ibid.,
h. 54
[6]Jan Hendrik Rapar, Pengantar
Filsafat, (Yogjakarta: Kasinius, 1996) h. 19.
[7]Ibid.,
h. 17.
[8]Ibid.,
h. 18
[9]Ibid.,
h. 17.
[10]Ibid.,
h. 18.
[11]Jan
Hendrik Rapar, Pengantar ...,
h.
20.
[12]Sudarsono, Ilmu Filsafat suatu Pengantar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h.
15.
0 Comments
nama :